Selasa, 19 Februari 2013

Bukhari Manusia Super


Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !
Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran
Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…
Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi
Pertanyaan :
  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)
Legenda :
1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)
tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???
2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???
Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !
3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis
.
Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!
60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)
hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.
8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis
adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?
itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.
belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.
kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik
Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.
Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.
Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Biografi Imam Muslim


Imam Muslim

Nama lengkap beliau ialah Imam Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Dia dilahirkan di Naisabur tahun 206 H. Sebagaimana dikatakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya "Ulama'ul Amsar. Imam Muslim adalah penulis kitab syahih dan kitab ilmu hadits. Dia adalah ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal sampai kini.

Kehidupan dan Pengembaraannya

Kehidupan Imam Muslim penuh dengan kegiatan mulia. Beliau meran-tau ke berbagai negeri untuk mencari hadits. Dia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dia belajar hadits sejak masih kecil, yakni mulai tahun 218 H. Dalam perjalanannya, Muslim bertemu dan berguru pada ulama hadis.

Di Khurasan, dia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray, dia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan. Di Irak, dia belajar kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz, berguru kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'ab. Di Mesir, belajar kepada 'Amar bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan berguru kepada ulama hadits lainnya.

Imam Muslim berulangkali pergi ke Bagdad untuk belajar hadits, dan kunjungannya yang terakhir tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering berguru kepadanya. Sebab dia mengetahui kelebihan ilmu Imam Bukhari. Ketika terjadi ketegangan antara Bukhari dengan az--Zuhali, dia memihak Bukhari. Sehingga hubungannya dengan az-Zuhali menjadi putus. Dalam kitab syahihnya maupun kitab lainnya, Muslim tidak memasukkan hadits yang diterima dari az-Zuhali, meskipun dia adalah guru Muslim. Dan dia pun tidak memasukkan hadits yang diterima dari Bukhari, padahal dia juga sebagai gurunya. Bagi Muslim, lebih baik tidak memasukkan hadits yang diterimanya dari dua gurunya itu. Tetapi dia tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

Wafatnya

Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan di makamkan di kampong Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Selama hidupnya, Muslim menulis beberapa kitab yang sangat bermanfaat.

Para Gurunya

Imam Muslim mempunyai guru hadits sangat banyak sekali, diantaranya adalah: Usman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaiban bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab, 'Amar an-Naqid, Muhammad bin Musanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Sa'id al-Aili, Qutaibah bin sa'id dan lain sebagainya.

Murid yang meriwayatkan Haditsnya

Banyak para ulama yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim, bahkan di antaranya terdapat ulama besar yang sebaya dengan dia. Di antaranya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi isa at-Tirmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Syahih Muslim. Dan masih banyak lagi muridnya yang lain.
Dimensi isi tauhid
Tauhid mempunyai beberapa dimensi isi tauhid sbb:
1. Tauhid sebagai prinsip pertama metafisika
Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah berarti berpendapat bahwa Dialah Pencipta yang mewujudkan segalanya. Dialah sebab utama setiap kejadian, dan tujuan akhir segala yang ada, bahwa Dialah Yang Pertama dan Terakhir. Bersaksi dengan kebebasan dan keyakinan, secara sadar memahami isinya, berarti menyadari bahwa segala di sekitar kita, baik benda atau kejadian, semua yang terjadi di bidang alam, sosial, atau psikis, adalah tindakan Tuhan, pelaksanaan dari satu atau lebih tujuan-Nya. Begitu tercipta, realisasi seperti itu menjadi hakikat kedua manusia, yang tak dapat dipisahkan darinya selama terjaga. Sehingga manusia akan hidup di bawah bayang-bayangnya. Dan dimana manusia mengetahui perintah dan tindakan Tuhan dalam setiap objek dan peristiwa, maka dia mengikuti inisiatif Tuhan karena ini semua perintah Tuhan. Mengamati inisiatif Tuhan dalam alam ebrarti melaksanakan ilmu alam. Karena inisiatif Ilahiah dalam alam tak lain daripada hukum-hukum yang tak berubah yang diaugerahkan Tuahn kepada alam. Mengamati inisiatif Ilahiah dalam diri seseorang atau dalam masyarakat berarti mempelajari ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial. Dan jika seluruh alam semesta sendiri benar-benar menyingkapkan atau memenuhi hukum alam in, yang adalah perintahdan kehendak Tuhan, maka alam semesta, menurut orang Muslim merupakan teater hidup yang digerakkan oleh perintah Tuhan. Teater itu sendiri, dan segala isinya, dapat dijelaskan dengan istilah-istilah ini. Keesaan Tuhan berarti bahwa Dialah Sebab segalanya.
2. Tauhid sebagai prinsip pertama etika
Tauhid menegaskan bahwa Tuhan Maha Esa menciptakan manusia dalam bentuk terbaik, untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Ini berarti bahwa seluruh keberadaan manusia di muka bumi bertujuan mematuhi Tuhan, menjalankan perintah-Nya. Tauhid juga menegaskan bahwa tujuan ini termasuk kekhalifahan manusia di muka bumi. Karena, menurut Al-Qur’an, Tuhan telah memberikan amanat-Nya kepada manusia, amanat yang tak mampu dipikul langit dan bumi, dan yang mereka hindari dengan ketakutan. Amanat tuhan adalah pelaksanaan bagian etika dari kehendak Tuhan. Hakikatnya menuntut bahwa amanat itu diwujudkan dalam kebebasan dan manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melakukannya. Dimanapun kehendak Tuhan diwujudkan sesuai kebutuhan hukum alam, perwujudannya bukan moral, tetapi mendasar (elemental) atau bermanfaat (utilitarian). Hanya manusia yang mampu mewujudkannya dengan kemungkinan melakukan atau tidak melakukannya sama sekali, atau melakukan sebaliknya atau sebagian. Kemerdekaan manusia untuk mematuhi perintah Tuhanlah yang menjadikan pelaksanaan perintah moral.
Tauhid menegaskan bahwa Tuhan, yang pemurah dan bertujuan, tidak menciptakanmanusia secara main-main, atau sia-sia. Dia menganugerahkan manusia dengan panca indera, akal dan pemahaman, menjadikannya sempurna – dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya- untuk mempersiapkannya menunaikan tugas besar ini.
3. Tauhid sebagai prinsip pertama aksiologi
Tauhid menegaskan bahwa Tuhan telah menciptakan umat manusia agar manusia dapat membuktikan diri bernilai secara moral melalui perbuatannya. Sebagai Hakim agung dan akhir,Dia memperingatkan bahwa semua perbuatan manusia akan diperhitungkan ; bahwa perbuatan baik mereka akan diberi pahala, dan perbuatan buruk mereka akan diberi hukuman. Tauhid selanjutnya menegaskan bahwa Tuhan menempatkan manusia di muka bumi agar manusia mendiaminya. Agar manusia dapat bekerja di atas bumi, memakan buah-buahnya, menikmati kebaikan dan keindahannya, dan memakmurkan bumi dan dirinya. Inilah penegasan dunia : menerima dunia karena dunia tidak berdosa dan baik, diciptakan oleh Tuhan dan diatur oleh-Nya untuk dimanfaatkan manusia. Segala yang ada di dunia ini, termasuk matahari dan bulan, tunduk kepada manusia. Semua ciptaan merupakan teater bagi manusia untuk melakukan perbuatan etikanya sehingga mewujudkan bagian yang lebih tinggi dari kehendak Ilahi. Manusia bertanggung jawab untuk memuaskan naluri dan kebutuhannya, dan setiap orang bertanggung jawab satu sama lain. Manusia berkewajiban mengembangkan sumber daya manusia ke tingkat yang tertinggi yang mungkin, sehingga semua karunia alam dapat sepenuhnya dimanfaatkan. Dia berkewajiban mengubah bumi menjadi kebun buah yang produktif dan taman indah. Dalam proses ini dia dapat mengeksplorasi matahari dan bulan jika perlu. Tentu saja manusia harus menemukan dan mempelajari pola-pola alam, jiwa manusia, masyarakat. Dia harus mengindustrikan dan mengembangkan dunia agar dunia menjadi taman dimana Firman Allah diagungkan.
4. Tauhid sebagai prinsip pertama masyarakat
Tauhid menegaskan bahwa “umatmu ini umat yang satu, yang Tuhannya adalah Allah. Karena itu sembah dan mengabdilah pada-Nya” Tauhid berarti bahwa orang orang-orang beriman adalah bersaudara , yang anggotanya saling mencintai dalam Tuhan, mereka saling menasihati untuk berlaku adil dan sabar. Mereka semua berpegang pada tali Allah, dan tidak berpisah satu sama lain, mereka saling berurusan, menganjurkan kebaikan dan melarang kejahatan; mereka menaati Allah dan Nabi-Nya.
5. Tauhid sebagai prinsip pertama estetika
Tauhid berarti menyingkirkan Tuhan dari segenap bidang alam. Segala yang diciptakan adalah makhluk, nontrasenden, tunduk kepada hukum ruang dan waktu. Semuanya ini tak mungkin Tuhan dalam arti apapun, khususnya arti ontologis yang dinafikan tauhid, sebagai intisari monoteisme. Tuhan sama sekali bukan ciptaan, sama sekali bukan alam, dan karena itu Tuhan transenden. Dialah satu-satunya wujud yang trasenden. Tauhid selanjutnya menegaskan bahwa tak ada yang menyerupai-Nya, sehingga tidak ada ciptaan yang menyerupai atau melambangkan Tuhan, tak ada yang dapat mewakili-Nya. Jelas secara definisi Dia tak tergambarkan. Tuhan adalah Dia yang tak ada lembaga estetis apapun yang mungkin.

Tauhid sebagai dimensi metodologi


Sebagai intisari peradaban Islam, tauhid mempunyai dua segi atau dimensi : segi metodologis dan konseptual. Yang pertama menentukan bentuk penerapan dan implementasi prinsip pertama peradaban ; yang kedua menentukan prinsip pertama itu sendiri.
Dimensi Metodologis
Dimensi metodologis meliputi tiga prinsip; yaitu kesatuan, rasionalisme, dan toleransi. Ketiganya ini menentukan bentuk peradaban Islam.
Kesatuan. Tak ada peradaban tanpa kesatuan. Jika unsur-unsur peradaban tidak bersatu, berjalin , dan selaras satu dengan lainnya, maka unsur-unsur itu bukan membentuk peradaban, melainkan himpunan campur-aduk. Prinsip menyatukan berbagai unsur dan memasukkan unsur-unsur itu di dalam kerangkanya sangat penting. Prinsip seperti ini akan mengubah campuran hubungan unsur-unsur satu dengan lainnya menjadi bangunan rapi dimana tingkat prioritas atau derajat kepentingan dapat dirasakan. Peradaban Islam menempatkan unsur-unsur dalam bangunan rapi dan mengatur eksistensi serta hubungannya berdasarkan pola yang seragam. Unsur-unsur itu sendiri ada yangasli dan ada yang berasal dari luar. Tidak ada peradaban yang tidak mengambil unsur dari luar. Yang penting adalah bahwa peradaban mencerna unsur itu, yaitu mempola kembali bentuk dan hubungannya sehingga menyatu ke dalam sistemnya sendiri. “Membentuk” unsur itu dengan bentuknya sendiri sebenarnya mengubahnya menjadi realitas baru sehingga unsur itu tak lagi eksis sebagai unsur itu sendiri, namun sebagai komponen integral peradaban baru. Ini bukanlah argumen menentang peradaban bila peradaban itu semata-mata hanya menambah unsur-unsur asing. Atau bila peradaban melakukannya dengan cara terpotong-potong, tanpa pembentukan ulang, penambahan, atau integrasi. Persisny, unsur-unsur ini semata-mata ada bersama (co-exist) dengan peradaban. Secara organis, unsur-unsur itu bukan bagian dari peradaban itu. Namun jika peradaban ini telah berhasil mengubah mereka dan mengintegrasikannya ke dalam sistemnya, maka proses integrasi menjadi indeks vitalitas, dinamisme dan kreativitasnya. Dalam setiap peradaban integral, dan tentu saja dalam Islam, unsur-unsur pembentuknya, baik unsur material, struktural atau relasional, semuanya diikat oleh satu prinsip utama. Dalam peradaban Islam, prinsip utama ini adalah tauhid. Inilah tongkat pengukur utama orang Islam, pembimbing dan pencarinya dalam berhadapan dengan agama dan peradaban lain, dengan fakta atau situasi baru. Yang sejalan dengan prinsip ini diterima dan diintegrasikan. Yang tidak sejalan ditolak atau dikutuk.
Tauhid atau doktrin keesaan, transenden, dan doktrin keutamaan Tuhan, mengandung arti bahwa hanya Dia yang patut disembah dan dilayani. Orang yang taat akan hidup berdasarkan prinsip ini. Dia akan berupaya menyelaraskan perbuatannya dengan pola ini, melaksanakan maksud Ilahiah. Karena itu, kehidupannya harus menunjukkan kesatuan pikiran dan kehendaknya, tujuan utama pengabdiannya. Kehidupannya tak akan merupakan serangkaian peristiwa yang disatukan dengan kacau balau. Tetapi, kehidupannya akan dihubungkan dengan satu prinsip utama, diikat oleh kerangka tunggal yang menyatukan mereka menjadi kesatuan tunggal. Dengan demikian, kehidupannya memiliki gaya tunggal, bentuk yang integral – singkatnya Islam.
Rasionalisme. Sebagai prinsip metodologis, rasionalisme membentuk intisari peradaban Islam. Rasionalisme terdiri atas tiga aturan atau hukum : pertama, menolak semua yang tidak berkaitan dengan realitas; kedua, menafikan hal-hal yang sangat bertentangan; ketiga, terbuka terhadap bukti baru dan/ atau berlawanan. Hukum pertama melindungi seorang muslim dari membuat pernyataan yang tidak terujji, tidak jelas terhadap ilmu pengetahuan.Pernyataan yang kabur, menurut Al-Qur’an, merupakan contoh zhann (pengetahuan yang menipu) dan dilarang oleh Tuhan, sekalipun tujuannya dapat diabaikan. Seorang muslim dapat didefinisikan sebagai orang yang pernyataannya hanyalah kebenaran. Hukum kedua melindunginya dari kontradiksi di satu pihak, dan paradoks di pihak lain.
Rasionalisme bukan berarti pengutamaan akal atas wahyu tetapi penolakan terhadap kontradiksi puncak antara keduanya.
Rasionalisme mempelajari tesis-tesis yang bertentangan berulang-ulang, dengan anggapan bahwa pasti ada segi pemikiran yang terlewat yang jika dipertimbangkan akan mengungkapkan hubungan yang bertentangan. Rasionalisme juga menggiring pembaca wahyu- bukan wahyu itu sendiri – kepada bacaan lain. Bila dia menangkap makna yang tak jelas yang kemudian dipikirkannya kembali, maka akan menghapus kontradiksi yang tampak. Perujukan pada akal atau pemahaman demikian akan memiliki pengaruh penyelarasan bukan wahyu itu sendiri – wahyu tak dapat dimanipulasi manusia – tetapi penafsiran atau pemahamann insani seorang muslim akan wahyu. Ini menjadikan pemahamannya akan wahyu sejalan dengan bukti kumulatif yang disingkapkan akal. Penerimaan terhadap sesuatu yang bertentangan atau paradoks sebagai suatu kebenaran hanya menarik orang-orang berpandangan picik. Muslim yang cerdas adalah seorang rasionalis karena dia menegaskan kesatuan dua sumber kebenaran yaitu wahyu dan akal.
Hukum ketiga, keterbukaan terhadap bukti baru atau yang bertentangan, melindungi seorang muslim dari literalisme, fanatisme, dan konservatisme yang menyebabkan stagnasi. Hukum ketiga ini mencontohkan dia kepada kerendahan hati intelektual. Memaksanya menambahkan pada penegasan dan penyangkalannya ungkapan “Allahu a’lam” (Allah yang lebih tahu). Karena dia yakin bahwa kebenaran lebih besar daripada yang dapat dikuasainya.
Sebagai penegasan akan keesaan mutlak Tuhan, tauhid merupakan penegasan keesaan kebenaran. Karena Tuhan, dalam Islam adalah kebenaran. Keesaan-Nya merupakan keesaan sumber-sumber kebenaran. Tuhan adalah Pencipta alam dari mana manusia mendapat pengetahuannya. Tujuan pengetahuan adalah pola-pola alam yang merupakan karya Tuhan. Jelas Tuhan mengetahui semuanya karena Dialah penciptanya; dan Dialah sumber wahyu. Dia memberi manusia pengetahuan-Nya; dan pengetahuan-Nya mutlak dan universal. Tuhan tidak menipu, tidak dengki, tidak menyesatkan. Dia juga tidak mengubah keputusan-Nya seperti yang dilakukan manusia ketika membetulkan pengetahuan-Nya, kehendaknya, atau keputusannya. Tuhan adalah sempurna dan maha tahu. Dia tak pernah salah. Kalau pernah, Dia tidak akan menjadi Tuhan trasenden agama Islam.

Toleransi. Sebagai prinsip metodologis, toleransi adalah penerimaan terhadap yang tampak sampai kepalsuannya tersingkap. Dengan demikian toleransi relevan dengan epistemologi. Ia juga relevan dengan etika sebagai prinsip menerima apa yang dikehendaki sampai ketaklayakannya tersingkap. Yang pertama disebut sa’ah; yang kedua yusr. Keduanya melindungi seorang muslim dari menutup diri terhadap dunia dari konservatisme. Keduanya mendesaknya untuk menegaskan dan mengatakannya terhadap kehidupan, terhadap pengalaman baru. Keduanya mendorongnya untuk menyampaikan data baru dengan pikirannya yang tajam, usaha konstruktifnya. Dan dengan demikian memperkaya pengalaman dan kehidupannya, dan selalau memajukan budaya dan peradabannya.
Sebagai prinsip metodologis di dalam intisari peradaban Islam, toleransi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak membiarkan umat-Nya tanpa mengutus rasul dari mereka sendiri. Rasul yang akan mengajarkan bahwa tak ada Tuhan kecuali Allah, dan bahwa mereka patut menyembah dan mengabdi kepada-Nya, untuk memperingatkan mereka bahaya kejahatan dan penyebabnya. Dalam hubungan ini, toleransi adalah kepastian bahwa semua manusia dikaruniai sensus communis, yang membuat manusia dapat mengetahui agama yang benar, mengetahui kehendak dan perintah Tuhannya. Toleransi adalah keyakinan bahwa keanekaragaman agama terjadi karena sejarah dengan semua faktor yang mempengaruhinya, kondisi ruang dan waktunya yang berbeda, prasangka, keinginan, dan kepentingannya. Di balik keanekaragaman agama berdiri al-din al-hanif, agama fitrah Allah, yang mana manusia lahir bersamanya sebelum akulturasi membuat manusia menganut agama ini atau itu. Toleransi menuntut seorang Muslim untuk mempelajari sejarah agama-agama. Tujuannya untuk menemukan di dalam setiap agama karunia awal Tuhan, yang diajarkan oleh rasul-rasul yang diutus-Nya di segenap tempat dan waktu.
Dalam agama-dan hampir tak ada yang lebih penting dalam hubungan manusia-toleransi mengubah konfrontasi dan saling kutuk antar agama menjadi kerjasama penelitian ilmiah tentang asal-usul dan perkembangan agama. Tujuannya memisahkan penambahan historis dari wahyu awal yang diterima. Dalam etika, semua bidang penting berikutnya, yusr; mengebalkan seorang Muslim dari kecenderungan menolak kehidupan. Yusr membuatnya memiliki optimisme yang diperlukan untuk menjaga kesehatan, keseimbangan, dan kebersamaan, meski kehidupan manusia ditimpa berbagai tragedy dan penderitaan. Tuhan menjamin makhluk-Nya bahwa “dengan kesulitan, Kami menetapkan kemudahan [yusr]”. Dan karena Dia memerintahkan mereka untuk menguji setiap pernyataan dan memastikannya sebelum menilai, maka kaum ushuli (ahli fiqih) melakukan eksperimentasi sebelum menilai kebaikan atau keburukannya, yang tidak bertentangan dengan perintah Ilahiah yang pasti.
Sa’ah dan yusr langsung berasal dari tauhid sebagai prinsip metafisika etika. Tuhan, yang menciptakan manusia agar manusia dapat membuktikan dirinya berguna, telah membuatnya bebas dan mampu bertindak positif di dunia. Menurut Islam, melaksanakan hal itu adalah maksud eksistensi manusia di bumi.

TAUHID ULUHIYAH



Tauhid Uluhiyah merupakan salah satu cabang Tauhid dari tiga macam Tauhid yang ada, yaitu mempercayai bahwa hanya kepada Allah-lah manusia harus bertuhan, beribadah, memohon pertolongan, tunduk, patuh, dan merendah serta tidak kepada yang lain. Makna Uluhiyah adalah mengakui bahwa hanya Allah lah Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. (DR. Abdul Aziz bin M. Alu Abdullatief, hal. 13).Tauhid Uluhiyah merupakan ujung ruh Al Qur’an, yang karenanya para Rasul diutus, yang karenanya ada pahala dan siksa, dan karenanya keikhlasan beragama kepada Allah terealisasi. (Ibnu Taimiyah, Menghindari pertentangan Wahyu dan Akal, hal. 30). Ayat al Qur'an yang menerangkan tentang Tauhid jenis ini adalah:
"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan, Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus." (TQS. Yasin: 60 - 61)

Template by:
Free Blog Templates