Sebagai intisari peradaban Islam,
tauhid mempunyai dua segi atau dimensi : segi metodologis dan
konseptual. Yang pertama menentukan bentuk penerapan dan implementasi
prinsip pertama peradaban ; yang kedua menentukan prinsip pertama itu
sendiri.
Dimensi Metodologis
Dimensi metodologis meliputi tiga
prinsip; yaitu kesatuan, rasionalisme, dan toleransi. Ketiganya ini
menentukan bentuk peradaban Islam.
Kesatuan. Tak ada peradaban tanpa
kesatuan. Jika unsur-unsur peradaban tidak bersatu, berjalin , dan
selaras satu dengan lainnya, maka unsur-unsur itu bukan membentuk
peradaban, melainkan himpunan campur-aduk. Prinsip menyatukan berbagai
unsur dan memasukkan unsur-unsur itu di dalam kerangkanya sangat
penting. Prinsip seperti ini akan mengubah campuran hubungan
unsur-unsur satu dengan lainnya menjadi bangunan rapi dimana tingkat
prioritas atau derajat kepentingan dapat dirasakan. Peradaban Islam
menempatkan unsur-unsur dalam bangunan rapi dan mengatur eksistensi
serta hubungannya berdasarkan pola yang seragam. Unsur-unsur itu
sendiri ada yangasli dan ada yang berasal dari luar. Tidak ada
peradaban yang tidak mengambil unsur dari luar. Yang penting adalah
bahwa peradaban mencerna unsur itu, yaitu mempola kembali bentuk dan
hubungannya sehingga menyatu ke dalam sistemnya sendiri. “Membentuk”
unsur itu dengan bentuknya sendiri sebenarnya mengubahnya menjadi
realitas baru sehingga unsur itu tak lagi eksis sebagai unsur itu
sendiri, namun sebagai komponen integral peradaban baru. Ini bukanlah
argumen menentang peradaban bila peradaban itu semata-mata hanya
menambah unsur-unsur asing. Atau bila peradaban melakukannya dengan
cara terpotong-potong, tanpa pembentukan ulang, penambahan, atau
integrasi. Persisny, unsur-unsur ini semata-mata ada bersama (co-exist)
dengan peradaban. Secara organis, unsur-unsur itu bukan bagian dari
peradaban itu. Namun jika peradaban ini telah berhasil mengubah mereka
dan mengintegrasikannya ke dalam sistemnya, maka proses integrasi
menjadi indeks vitalitas, dinamisme dan kreativitasnya. Dalam setiap
peradaban integral, dan tentu saja dalam Islam, unsur-unsur
pembentuknya, baik unsur material, struktural atau relasional, semuanya
diikat oleh satu prinsip utama. Dalam peradaban Islam, prinsip utama
ini adalah tauhid. Inilah tongkat pengukur utama orang Islam,
pembimbing dan pencarinya dalam berhadapan dengan agama dan peradaban
lain, dengan fakta atau situasi baru. Yang sejalan dengan prinsip ini
diterima dan diintegrasikan. Yang tidak sejalan ditolak atau dikutuk.
Tauhid
atau doktrin keesaan, transenden, dan doktrin keutamaan Tuhan,
mengandung arti bahwa hanya Dia yang patut disembah dan dilayani. Orang
yang taat akan hidup berdasarkan prinsip ini. Dia akan berupaya
menyelaraskan perbuatannya dengan pola ini, melaksanakan maksud
Ilahiah. Karena itu, kehidupannya harus menunjukkan kesatuan pikiran
dan kehendaknya, tujuan utama pengabdiannya. Kehidupannya tak akan
merupakan serangkaian peristiwa yang disatukan dengan kacau balau.
Tetapi, kehidupannya akan dihubungkan dengan satu prinsip utama, diikat
oleh kerangka tunggal yang menyatukan mereka menjadi kesatuan tunggal.
Dengan demikian, kehidupannya memiliki gaya tunggal, bentuk yang
integral – singkatnya Islam.
Rasionalisme. Sebagai prinsip
metodologis, rasionalisme membentuk intisari peradaban Islam.
Rasionalisme terdiri atas tiga aturan atau hukum : pertama, menolak
semua yang tidak berkaitan dengan realitas; kedua, menafikan hal-hal
yang sangat bertentangan; ketiga, terbuka terhadap bukti baru dan/ atau
berlawanan. Hukum pertama melindungi seorang muslim dari membuat
pernyataan yang tidak terujji, tidak jelas terhadap ilmu
pengetahuan.Pernyataan yang kabur, menurut Al-Qur’an, merupakan contoh
zhann (pengetahuan yang menipu) dan dilarang oleh Tuhan, sekalipun
tujuannya dapat diabaikan. Seorang muslim dapat didefinisikan sebagai
orang yang pernyataannya hanyalah kebenaran. Hukum kedua melindunginya
dari kontradiksi di satu pihak, dan paradoks di pihak lain.
Rasionalisme bukan berarti pengutamaan akal atas wahyu tetapi penolakan terhadap kontradiksi puncak antara keduanya.
Rasionalisme
mempelajari tesis-tesis yang bertentangan berulang-ulang, dengan
anggapan bahwa pasti ada segi pemikiran yang terlewat yang jika
dipertimbangkan akan mengungkapkan hubungan yang bertentangan.
Rasionalisme juga menggiring pembaca wahyu- bukan wahyu itu sendiri –
kepada bacaan lain. Bila dia menangkap makna yang tak jelas yang
kemudian dipikirkannya kembali, maka akan menghapus kontradiksi yang
tampak. Perujukan pada akal atau pemahaman demikian akan memiliki
pengaruh penyelarasan bukan wahyu itu sendiri – wahyu tak dapat
dimanipulasi manusia – tetapi penafsiran atau pemahamann insani seorang
muslim akan wahyu. Ini menjadikan pemahamannya akan wahyu sejalan
dengan bukti kumulatif yang disingkapkan akal. Penerimaan terhadap
sesuatu yang bertentangan atau paradoks sebagai suatu kebenaran hanya
menarik orang-orang berpandangan picik. Muslim yang cerdas adalah
seorang rasionalis karena dia menegaskan kesatuan dua sumber kebenaran
yaitu wahyu dan akal.
Hukum ketiga, keterbukaan terhadap bukti baru
atau yang bertentangan, melindungi seorang muslim dari literalisme,
fanatisme, dan konservatisme yang menyebabkan stagnasi. Hukum ketiga
ini mencontohkan dia kepada kerendahan hati intelektual. Memaksanya
menambahkan pada penegasan dan penyangkalannya ungkapan “Allahu a’lam”
(Allah yang lebih tahu). Karena dia yakin bahwa kebenaran lebih besar
daripada yang dapat dikuasainya.
Sebagai penegasan akan keesaan
mutlak Tuhan, tauhid merupakan penegasan keesaan kebenaran. Karena
Tuhan, dalam Islam adalah kebenaran. Keesaan-Nya merupakan keesaan
sumber-sumber kebenaran. Tuhan adalah Pencipta alam dari mana manusia
mendapat pengetahuannya. Tujuan pengetahuan adalah pola-pola alam yang
merupakan karya Tuhan. Jelas Tuhan mengetahui semuanya karena Dialah
penciptanya; dan Dialah sumber wahyu. Dia memberi manusia
pengetahuan-Nya; dan pengetahuan-Nya mutlak dan universal. Tuhan tidak
menipu, tidak dengki, tidak menyesatkan. Dia juga tidak mengubah
keputusan-Nya seperti yang dilakukan manusia ketika membetulkan
pengetahuan-Nya, kehendaknya, atau keputusannya. Tuhan adalah sempurna
dan maha tahu. Dia tak pernah salah. Kalau pernah, Dia tidak akan
menjadi Tuhan trasenden agama Islam.
Toleransi. Sebagai prinsip
metodologis, toleransi adalah penerimaan terhadap yang tampak sampai
kepalsuannya tersingkap. Dengan demikian toleransi relevan dengan
epistemologi. Ia juga relevan dengan etika sebagai prinsip menerima apa
yang dikehendaki sampai ketaklayakannya tersingkap. Yang pertama
disebut sa’ah; yang kedua yusr. Keduanya melindungi seorang muslim dari
menutup diri terhadap dunia dari konservatisme. Keduanya mendesaknya
untuk menegaskan dan mengatakannya terhadap kehidupan, terhadap
pengalaman baru. Keduanya mendorongnya untuk menyampaikan data baru
dengan pikirannya yang tajam, usaha konstruktifnya. Dan dengan demikian
memperkaya pengalaman dan kehidupannya, dan selalau memajukan budaya
dan peradabannya.
Sebagai prinsip metodologis di dalam intisari
peradaban Islam, toleransi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak
membiarkan umat-Nya tanpa mengutus rasul dari mereka sendiri. Rasul
yang akan mengajarkan bahwa tak ada Tuhan kecuali Allah, dan bahwa
mereka patut menyembah dan mengabdi kepada-Nya, untuk memperingatkan
mereka bahaya kejahatan dan penyebabnya. Dalam hubungan ini, toleransi
adalah kepastian bahwa semua manusia dikaruniai sensus communis, yang
membuat manusia dapat mengetahui agama yang benar, mengetahui kehendak
dan perintah Tuhannya. Toleransi adalah keyakinan bahwa keanekaragaman
agama terjadi karena sejarah dengan semua faktor yang mempengaruhinya,
kondisi ruang dan waktunya yang berbeda, prasangka, keinginan, dan
kepentingannya. Di balik keanekaragaman agama berdiri al-din al-hanif,
agama fitrah Allah, yang mana manusia lahir bersamanya sebelum
akulturasi membuat manusia menganut agama ini atau itu. Toleransi
menuntut seorang Muslim untuk mempelajari sejarah agama-agama.
Tujuannya untuk menemukan di dalam setiap agama karunia awal Tuhan,
yang diajarkan oleh rasul-rasul yang diutus-Nya di segenap tempat dan
waktu.
Dalam agama-dan hampir tak ada yang lebih penting dalam
hubungan manusia-toleransi mengubah konfrontasi dan saling kutuk antar
agama menjadi kerjasama penelitian ilmiah tentang asal-usul dan
perkembangan agama. Tujuannya memisahkan penambahan historis dari wahyu
awal yang diterima. Dalam etika, semua bidang penting berikutnya, yusr;
mengebalkan seorang Muslim dari kecenderungan menolak kehidupan. Yusr
membuatnya memiliki optimisme yang diperlukan untuk menjaga kesehatan,
keseimbangan, dan kebersamaan, meski kehidupan manusia ditimpa berbagai
tragedy dan penderitaan. Tuhan menjamin makhluk-Nya bahwa “dengan
kesulitan, Kami menetapkan kemudahan [yusr]”. Dan karena Dia
memerintahkan mereka untuk menguji setiap pernyataan dan memastikannya
sebelum menilai, maka kaum ushuli (ahli fiqih) melakukan eksperimentasi
sebelum menilai kebaikan atau keburukannya, yang tidak bertentangan
dengan perintah Ilahiah yang pasti.
Sa’ah dan yusr langsung berasal
dari tauhid sebagai prinsip metafisika etika. Tuhan, yang menciptakan
manusia agar manusia dapat membuktikan dirinya berguna, telah
membuatnya bebas dan mampu bertindak positif di dunia. Menurut Islam,
melaksanakan hal itu adalah maksud eksistensi manusia di bumi.